MENGENAL SEJARAH TRADISI SYAWALAN DI KALIWUNGU

Setiap tahun setelah Hari Raya Idul Fitri, di Kecamatan Kaliwungu terdapat sebuah tradisi yang kental dengan nilai budaya kearifan lokal setempat. Namanya "Syawalan", orang Kaliwungu menyebutnya bodho cilik atau bodho ketupat yang selalu dilestarikan dan dikabarkan selalu ramai dikunjungi oleh banyak orang dari berbagai daerah. Tradisi ini memiliki makna mendalam bagi masyarakat setempat dan identik dengan membuat dan menyantap ketupat bersama, silaturahmi, serta simbol "ngaku lepat" (mengakui kesalahan) dan bentuk rasa syukur, tepatnya sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri. Tradisi Syawalan di Kaliwungu ini diketahui sudah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi salah satu tradisi Syawalan yang paling populer di Jawa Tengah. Namun demikian, tak jarang tradisi ini disalahartikan sebagai ajang hura-hura semata.

Berikut ini penulis mencoba mengupasnya secara mendalam makna Tradisi Syawalan di Kaliwungu Kendal.
Kata "Syawalan" diambil dari nama bulan ’Syawal’ ketambahan sambungan ’an’ yang bermakna suatu perbuatan yang dilakukan di bulan Syawal yaitu kegiatan ziarah berdoa di makam ulama besar Kaliwungu, KH Asy'ari (Kyai Guru), yang dilakukan oleh keluarga, santri, dan keturunan KH Asy'ari (Kyai Guru). Lambat laun, tradisi ini berkembang dan diikuti oleh masyarakat luas dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan sekitarnya. Tujuan utama tradisi ini adalah untuk mengenang tokoh ulama Kaliwungu dan mendoakan arwah para leluhur waliyullah khususnya KH Asy'ari (Kyai Guru) dan para ulama lain yang telah wafat di Kaliwungu. Selain itu, tradisi ini juga bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar keluarga, kerabat, dan masyarakat, serta melestarikan budaya lokal.
KH Asy'ari (Kyai Guru) merupakan merupakan ulama besar pada dekade 1781-an di daerah Kaliwungu khususnya dan Kendal pada umumnya. Kemampuan beliau mengajak masyarakat yang semula primitif dan awam terhadap masalah keagamaan terutama ajaran Islam menjadi masyarakat agamis dan religius. Kepribadian beliau sangat sederhana dan kharismatik sangat disegani oleh masyarakat, sehingga namanya selalu dikenang hingga sekarang. Perjuangan dakwahnya sudah semestinya diteladani, diteruskan dan ditumbuhkembangkan oleh generasi muda sekarang.

Berdasarkan informasi dari warga asli Kaliwungu, H. Muh. Tommy Fadlurohman, S.H, M.H yang merupakan anggota DPRD Kendal Komisi A mengungkapkan bahwa tradisi Syawalan ini bukan hanya tentang keramaian dan kemeriahan semata. Dahulu kala sepulang berziarah ke makam para ulama yang telah wafat di Kaliwungu, para peziarah disajikan dengan berbagai jajanan kuliner khas lokal (buah siwalan dan tebu) dan cinderamata dari penjual luar kota yang mengais rezeki di Kaliwungu ini. Biasanya mereka menjual berbagai macam kerajinan tangan yang beraneka ragam, seperti kerajinan gerabah dari tanah liat dengan berbagai bentuk, kain, mainan dan masih banyak lagi. Seiring berkembangnya jaman, tradisi Syawalan di Kaliwungu diwarnai dengan berbagai kegiatan. Seperti berbagai pertunjukan seni dan budaya, rebana, hadroh dan pengajian umum pada saat pembukaan. Selain itu juga ada pasar malam dengan berbagai spot arena bermain untuk anak-anak dan dewasa, seperti komedi putar, kora2, dan lainnya.

Bagi masyarakat sekitar Kaliwungu, tradisi Syawalan merupakan tradisi yang kaya akan nilai budaya dan sejarah yang harus dilestarikan, meski suasana sedikit berubah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun demikian, tradisi Syawalan tetap menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Kaliwungu dan juga memiliki peran utama dalam menjaga kelestarian budaya lokal. Nah, dari sinilah rangkaian Syawalan di Kaliwungu selain untuk menggembirakan masyarakat juga mengenang tokoh ulama kharismatik Kaliwungu guna memberikan semangat agar tidak lupa dengan akar tumbuh kembangnya agama Islam di Kaliwungu.
